You just have to call me "Gre"... :) Indonesian
I love all the things about cake, flower, vintage and classic stuff
tea, coffee, craft, music, traveling, friendship

 

Sade village,  Sasak, NTB Indonesia

Beliau adalah seorang nenek berusia 70 tahun. Pengrajin kain tenun dari desa Sade.
Beliau menenun kain tanpa menggunakan kacamata, tapi masih jelas penglihatannya. Memasukkan benang satu persatu, mengaitkan satu warna ke warna lain, beliau lakukan dengan benar.

Kain tenung ataupun songket adalah kain khas Lombok yang biasa dibawa pulang wisatawan sebagai cinderamata.
Untuk kain yang ditenun secara manual, harga kainnya berkisar mulai 1.000.000 perlembarnya. Harga tergantung corak dan lebar panjang kainnya.

Saya rasa worth it lah, dibanding dengan pengerjaan yang bisa memakan waktu bulanan per lembar kainnya. Dan saya rasa dengan kita membeli hasil kerajinan masyarakat setempat, bisa membantu perekonomian mereka, selain itu juga untuk melestarikan kebudayaan nenek moyang :)

Kira-kira, mau dibuat apaa ya kainnya? Ada ide? ;)

Salaam,
GRETA

(Use google translate: Indonesia-english)

Sade village, Sasak, NTB Indonesia

Beliau adalah seorang nenek berusia 70 tahun. Pengrajin kain tenun dari desa Sade.
Beliau menenun kain tanpa menggunakan kacamata, tapi masih jelas penglihatannya. Memasukkan benang satu persatu, mengaitkan satu warna ke warna lain, beliau lakukan dengan benar.

Kain tenung ataupun songket adalah kain khas Lombok yang biasa dibawa pulang wisatawan sebagai cinderamata.
Untuk kain yang ditenun secara manual, harga kainnya berkisar mulai 1.000.000 perlembarnya. Harga tergantung corak dan lebar panjang kainnya.

Saya rasa worth it lah, dibanding dengan pengerjaan yang bisa memakan waktu bulanan per lembar kainnya. Dan saya rasa dengan kita membeli hasil kerajinan masyarakat setempat, bisa membantu perekonomian mereka, selain itu juga untuk melestarikan kebudayaan nenek moyang :)

Kira-kira, mau dibuat apaa ya kainnya? Ada ide? ;)

Salaam,
GRETA

(Use google translate: Indonesia-english)

Tanjung Aan, Praya, Lombok Tengah, NTB, Indonesia

Pantai ini lebih cantiiiik dibandingkan Gili Trawangan. Pantainya tenang, dengan suasana yang relatif sepi. Di tengah laut, tampak deburan ombak yang cukup tinggi sangat cocok untuk berolahraga surfing.

Tidak banyak wisatawan lokal, kebanyakan adalah wisatawan asing.

Infrastruktur menuju lokasi ini sangat buruk dan berliku. Jalan tanah, bukan aspal atau paving. Kanan kiri adalah bukit-bukit dan sedikit curam. Naik turun, bergelombang, dan hanya bisa dilalui 2 jalur mobil. Bila ada bus berpapasan, maka bus harus menepi hingga bus miring dan hampir terperosok ke pinggiran jalan. Para wisatawan asingbanyak yang memilih kendaraan roda dua untuk mencapai lokasi ini. Selain aman, juga untuk mempersingkat waktu, karena motor bisa dengan mudah menerjang jalanan terjal.

Kanan kiri terhampar padang rumput dan tanah kosong, yang konon katanya beberapa merupakan milik keluarga cendana, dan rencananya akan dibuat suasana seperti Nusa Dua, Bali.
Sedangkan saat ini, dipinggiran pantai hanya terdapat kios-kios kecil yang tidak dikelola dengan baik. Sayangm sungguh sayang pantai yang indah ini tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah setempat. Padahal, seharusnya masyarakat bisa mendapatkan hasil dari pariwisata di Tanjung ann ini sebelum investor luar daerrah masuk.

Tapi, hal itu tidak mengurangi minat saya untuk menikmati oantai indah ini :)

Such a beautiful virgin!

Use google translate: indonesia-english

Salaam,
Greta